Pages

Friday, September 04, 2015

Novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck

Tenggelamnja Kapal Van der Wijck (EYD: Tenggelamnya Kapal Van der Wijck) adalah sebuah novel yang ditulis oleh Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan nama Hamka. Novel ini mengisahkan persoalan adat yang berlaku di Minangkabau dan perbedaan latar belakang sosial yang menghalangi hubungan cinta sepasang kekasih hingga berakhir dengan kematian.
Novel ini pertama kali ditulis oleh Hamka sebagai cerita bersambung dalam sebuah majalah yang dipimpinnya, Pedoman Masyarakat pada tahun 1938. Dalam novel ini, Hamka mengkritik beberapa tradisi yang dilakukan oleh masyarakat pada saat itu terutama mengenai kawin paksa. Kritikus sastra Indonesia Bakri Siregar menyebut Van der Wijck sebagai karya terbaik Hamka, meskipun pada tahun 1962 novel ini dituding sebagai plagiasi dari karya Jean-Baptiste Alphonse Karr berjudul Sous les Tilleuls (1832).
Diterbitkan sebagai novel pada tahun 1939, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck terus mengalami cetak ulang sampai saat sekarang. Novel ini juga diterbitkan dalam bahasa Melayu sejak tahun 1963 dan telah menjadi bahan bacaan wajib bagi siswa sekolah di Indonesia dan Malaysia.
Latar belakang
Haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau lebih dikenal dengan singkatan Hamka, adalah ulama asal Minangkabau yang dibesarkan dalam kalangan keluarga yang taat beragama. Ia memandang tradisi yang ada dalam masyarakat di sekitarnya sebagai penghambat kemajuan agama, sebagaimana pandangan ayahnya, Abdul Karim Amrullah. Setelah melakukan perjalanan ke Jawa dan Mekkah sejak berusia 16 tahun untuk menimba ilmu, ia bekerja sebagai guru agama di Deli, Sumatera Utara, lalu di Makassar, Sulawesi Selatan. Dalam perjalanan ini, terutama saat di Timur Tengah, Hamka banyak membaca karya dari ahli dan penulis Islam, termasuk karya penulis asal Mesir Mustafa Lutfi al-Manfaluti hingga karya sastrawan Eropa yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Pada tahun 1935, Hamka meninggalkan Makassar untuk pergi ke Medan. Di kota itu, ia menerima permintaan untuk menjadi pemimpin redaksi majalah Pedoman Masjarakat, yang dalam majalah ini untuk pertama kalinya nama pena Hamka diperkenalkan. Di sela-sela kesibukannya, Hamka menulis Van der Wijck; karya yang diilhami sebagian dari tenggelamnya suatu kapal pada tahun 1936.
Plot
Perdebatan mengenai harta warisan antara Pendekar Sutan dengan mamaknya berujung pada kematian. Akibat membunuh mamaknya, Pendekar Sutan diasingkan dari Batipuh ke Cilacap selama dua belas tahun. Setelah bebas, Pendekar Sutan memilih menetap di Makassar dan menikah dengan Daeng Habibah. Akan tetapi, setelah memperoleh seorang anak bernama Zainuddin, Daeng Habibah meninggal dan, tak lama setelah itu, Zainuddin menjadi yatim piatu.
Ketika beranjak remaja, Zainuddin meminta izin kepada pengasuhnya, Mak Base untuk berangkat ke Minangkabau; ia telah lama ingin menjumpai tanah asal ayahnya di Batipuh. Namun, kedatangan Zainuddin tidak mendapatkan sambutan baik di tengah-tengah struktur masyarakat yang bernasabkan kepada ibu itu. Ia dianggap tidak memiliki pertalian darah lagi dengan keluarganya di Minangkabau karena, meskipun berayah Minang, ibunya berasal dari Bugis. Akibatnya, ia merasa terasing dan melalui surat-surat ia kerap mencurahkan kesedihannya kepada Hayati, perempuan keturunan bangsawan Minang yang prihatin terhadapnya.
Setelah Zainuddin dan Hayati sama-sama mulai jatuh cinta, Zainuddin memutuskan pindah ke Padang Panjang karena mamak Hayati memintanya untuk keluar dari Batipuh. Sebelum berpisah, Hayati sempat berjanji kepada Zainuddin untuk selalu setia. Sewaktu Hayati berkunjung ke Padang Panjang karena hendak menjumpai Zainuddin, Hayati sempat menginap di rumah sahabatnya, Khadijah. Namun, sekembali dari Padang Panjang, Hayati dihadapkan oleh permintaan keluarganya yang telah sepakat untuk menerima pinangan Azis, kakak Khadijah; Aziz, yang murni keturunan Minang dan berasal dari keluarga terpandang, lebih disukai keluarga Hayati daripada Zainuddin. Meskipun masih mencintai Zainuddin, Hayati akhirnya terpaksa menerima dinikahkan dengan Aziz.
Mengetahui Hayati telah menikah dan mengkhianati janjinya, Zainuddin yang sempat berputus asa pergi ke Jawa bersama temannya Muluk, tinggal pertama kali di Batavia sebelum akhirnya pindah ke Surabaya. Di perantauan, Zainuddin menjadi penulis yang terkenal. Pada saat yang sama, Aziz juga pindah ke Surabaya bersama Hayati karena alasan pekerjaan, tetapi rumah tangga mereka akhirnya menjadi berantakan. Setelah Aziz dipecat, mereka menumpang ke rumah Zainuddin, tetapi Aziz lalu bunuh diri dan dalam sepucuk surat ia berpesan agar Zainuddin menjaga Hayati. Namun, Zainuddin tidak memaafkan kesalahan Hayati. Hayati akhirnya disuruh pulang ke Batipuh dengan menaiki kapal Van der Wijck. Di tengah-tengah perjalanan, kapal yang dinaiki Hayati tenggelam, dan setelah Zainuddin mendengar berita itu ia langsung menuju sebuah rumah sakit di Tuban. Sebelum kapal tenggelam, Muluk yang menyesali sikap Zainuddin memberi tahu Zainuddin bahwa Hayati sebetulnya masih mencintainya. Namun tak lama setelah Zainuddin datang, Hayati meninggal. Sepeninggal Hayati, Zainuddin menjadi sakit-sakitan sampai akhirnya meninggal. Jasadnya dimakamkan di dekat pusara Hayati.
Tema
Seperti novel Hamka sebelumnya, Di Bawah Lindungan Ka'bah, Van der Wijck ditulis untuk mengkritik beberapa tradisi dalam adat Minang yang berlaku saat itu, seperti perlakuan terhadap orang berketurunan blasteran dan peran perempuan dalam masyarakat; hal ini dimunculkan dengan usaha Hayati menjadi istri yang sempurna biarpun Aziz tidak menghargainya. Hamka beranggapan bahwa beberapa tradisi adat tersebut tidak sesuai dengan dasar-dasar Islam ataupun akal budi yang sehat. Dalam karyanya yang lain, Hamka terus mengkritik adat.
Rilis dan penerimaan
Van der Wijck pertama kali diterbitkan sebagai cerita bersambung dalam majalah Islam mingguan Hamka di Medan, Pedoman Masjarakat pada tahun 1938. Menurut Yunan Nasution, salah satu karyawan majalah tersebut, ketika majalah itu dikirimkan ke Kutaraja, Aceh (kini Banda Aceh), banyak pembaca yang telah menunggu di stasiun kereta api agar bisa membaca bab berikutnya secepat mungkin. Hamka juga menerima surat dari beberapa pembaca, yang beranggapan bahwa novel itu mencerminkan kehidupan mereka. Namun, beberapa orang Muslim konservatif menolak Van der Wijck; mereka menyatakan bahwa seorang ulama harusnya tidak mengarang cerita tentang percintaan.
Setelah mendapat sambutan yang hangat itu, Hamka memutuskan untuk menerbitkan Van der Wijck sebagai novel dengan usaha penerbitan milik temannya, M. Syarkawi; dengan menggunakan penerbit swasta Hamka tidak dikenakan sensor seperti yang berlaku di Balai Pustaka. Cetakan kedua juga dengan penerbit Syarkawi. Lima cetakan berikutnya, mulai pada tahun 1951, dengan Balai Pustaka. Cetakan kedelapan pada tahun 1961, diterbitkan oleh Penerbit Nusantara di Jakarta; hingga tahun 1962, novel ini telah dicetak lebih dari 80 ribu eksemplar. Cetakan setelah itu kemudian diterbitkan oleh Bulan Bintang.  Novel Hamka ini juga pernah diterbitkan di Malaysia beberapa kali.
Kritikus sastra Indonesia beraliran sosialis, Bakri Siregar menyebut Van der Wijck sebagai karya terbaik Hamka. Kritikus lain, Maman S. Mahayana, berpendapat bahwa novel ini mempunyai karakterisasi yang baik dan penuh ketegangan; Maman beranggapan bahwa ini mungkin karena novel ini awalnya diterbitkan sebagai cerita bersambug.
Tuduhan plagiasi
Pada bulan September 1962, Abdullan S.P.—nama samaran dari Pramoedya Ananta Toer—yang memuat tulisannya ke dalam koran Bintang Timur menyebutkan bahwa novel Van der Wijck diplagiasi dari Sous les Tilleuls (1832) karya Jean-Baptiste Alphonse Karr, melalui terjemahan berbahasa Arab oleh Mustafa Lutfi al-Manfaluti; sebenarnya desas-desus plagiasi sudah lama ada. Hal ini menjadi polemik luas dalam pers Indonesia. Sebagian besar orang yang menuduh Hamka berasal dari Lekra, sebuah organisasi sastra sayap kiri yang berafiliasi dengan PKI. Sementara itu, penulis di luar sayap kiri melindungi Hamka. Beberapa kritikus menemukakan beberapa kesamaan antara dua buku tersebut, baik dari segi alur maupun teknik penceritaan.
Ahli dokumentasi sastra H.B. Jassin, yang membandingkan kedua karya itu dengan menggunakan terjemahan Sous les Tilleuls berbahasa Indonesia yang diberi judul Magdalena, menulis bahwa novel ini tidaklah mungkin hasil plagiasi, sebab cara Hamka mendeskripsikan tempat itu sangat mendalam dan sesuai dengan gaya bahasanya dalam tulisan sebelumnya. Jassin juga menegaskan bahwa novel Van der Wijck membahas masalah adat Minang, yang tidak mungkin ditemukan dalam suatu karya sastra luar. Akan tetapi, Bakri Siregar beranggapan bahwa terdapat banyak kesamaan antara Zainuddin dan Steve, serta Hayati dan Magdalena, yang menandai adanya plagiasi. Kritikus sastra asal Belanda, A. Teeuw menyatakan bahwa tanpa berpendapat kalau kesamaan yang terkandung dalam novel itu dilakukan secara sadar, memang terdapat banyak hal yang mirip di antara kedua karya itu, tetapi Van der Wijck sesungguhnya mempunyai tema yang murni dari Indonesia.
Download Novelnya di sini

Tips Cara Membuat Otak Semakin Cerdas

Kekuatan otak adalah topik menarik yang membawa para peneliti turun ke lapangan. Akan selalu ada sesuatu yang menarik untuk ditemukan dalam studi baru yang berfokus pada bagaimana otak bekerja dan bagaimana kita bisa meningkatkan kekuatannya. Apalagi, otak manusia memang memiliki karakter yang unik jika dibandingkan dengan makhluk lain di dunia.
Ada banyak cara untuk meningkatkan kekuatan otak Anda dan itu bisa dilakukan pada usia berapa pun, karena otak tak pernah berhenti berkembang. Studi menunjukkan, pagi hari adalah waktu terbaik untuk meningkatkan aktivitas otak Anda. Para ahli menyarankan 8 “obat” untuk meningkatkan kekuatan otak di pagi hari.
Banyak cara yang yang dilakukan untuk membuat otak bekerja lebih baik. Tahukah Anda bahwa makanan memainkan peranan penting? Banyak orang berpikir, makanan yang dikonsumsi hanyalah untuk kekuatan fisik. Padahal, makanan juga berperan dalam meningkatkan kekuatan otak Anda.
Salah satu cara meningkatkan kekuatan otak di pagi hari adalah mulai dengan sarapan yang sehat. Pagi hari adalah waktu yang tepat untuk mengambil keputusan dan belajar berbagai hal. Intinya pada pagi hari, otak siap mulai bekerja. Berikut ini 8 cara meningkatkan kekuatan otak di pagi hari:
1. Mandi dengan air dingin
Mandi dengan air dingin adalah salah satu cara ampuh meningkatkan kekuatan otak Anda di pagi hari. Cobalah segera mandi dengan air dingin sesaat setelah bagung tidur. Ini akan meningkatkan kualitas otak dan meningkatkan produktivitas Anda saat bekerja.
2. Mendengarkan musik favorit
Terapi musik sangat terkenal dan disarankan oleh para dokter. Anda bisa memainkan musik favorit untuk memulai hari Anda. Bukan hanya dapat mengurangi stres, tapi juga memberi energi yang cukup untuk otak dan akan membuat Anda aktif baik mental maupun fisik
3. Bagun tidur tepat waktu
Pastikan Anda bangun di waktu yang sama setiap hari. Bagun tidur di waktu yang sama akan membantu meningkatkan kekuatan otak. Kebiasaan ini akan membantu Anda mudah mengambil keputusan dan Anda akan penuh energi sepanjanjang hari.
4. Nikmati secangkir kopi
Menikmati secangkir kopi dalam jumlah secukupnya dapat meningkatkan kemampuan otak Anda. Menurut penelitian, kopi dalam jumlah cukup dapat member keajaiban pada otak Anda dan akan meningkatkan kemampuan ingatan Anda.
5. Sarapan sehat
Sarapan sehat dipercaya sebagai penambah energi untuk tubuh manusia di berbagai usia. Ini adalah salah satu cara terbaik dan termudah yang sebaiknya tidak dilewatkan, untuk meningkatkan kemampuan otak.
6. Olahraga
Seiring dengan mengonsumsi makanan sehat, Anda pun perlu melakukan olahraga. Tak perlu terlalu lama, tapi dilakukan secara rutin untuk membantu memperkuat kinerja otak. Selain itu, melakukan meditasi setiap pagi juga dapat meningkatkan memori.
7. Isi  teka-teki silang
Kemampuan otak akan lebih kuat jika sering dilatih. Salah satu latihan untuk otak Anda adalah megisi teka-teki silang atau merangkai puzzle. Lakukan setiap pagi, ini dapat meningkatkan kekuatan otak Anda.
8. Tidur cukup
Salah satu faktor terpenting adalah tidur cukup. Orang dewasa membutuhkan tidur selama tujuh jam untuk membuat otak lebih kuat. Tidur nyenyak akan membuat tubuh dan pikiran lebih segar.
Sumber: www.kompas.com

Biarkan Anak-anak Kita Bermain

Namanya juga anak-anak, sukanya bermain, tapi siapa sangka, bahwa bermain dapat mengoptimalkan tumbuh kembang seorang anak.
Selain itu, disela-sela waktu bermainnya, sang anak akan mengeksplorasi hal baru yang sebelumnya belum pernah ia lihat, dengar dan rasakan, dan hal ini akan menjadi keuntungan bagi tumbuh kembang si anak.


Read more!

Thursday, September 03, 2015

Nover Arus Balik Karya Pramodya Ananta Toer

Arus Balik adalah novel sejarah karangan Pramodya Ananta Toer yang menceritakan Kedatangan
Portugis di Bumi Nusantara dengan latar surutnya pengaruh Majapahit dan naiknya pamor Kesultanan Demak. Tokoh utama dalam novel ini adalah seorang pemuda desa yang ikut berjuang dalam Invasi ke Malaka yang dipimpin oleh Pati Unus.

Download bukunya  di sini!

Kitab Tahafut at-Tahafut Karya Ibn Rusyd

Nama Abul Walid Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Rusyd (Ibnu Rusyd) sangat terkenal di dunia Islam. Ia tidak saja dikenal sebagai ahli fikih (kitabnya Bidayatul Mujtahid dan Al-Muqaddimah), Ibnu Rusyd (1126-1198) juga dikenal sebagai seorang filsuf Islam.
Salah satu karyanya yang sangat terkenal dan fenomenal dalam bidang filsafat adalah Tahafut at-Tahafut (Keruntuhan Kitab Tahafut). Kitab ini ditulisnya sebagai bantahan dan kritik atas kitab Al-Ghazali (1059-1111) yang berjudul Tahafut al-Falasifah (Keruntuhan Filsafat).
Tak ada catatan persis, kapan Ibnu Rusyd menulis kitab Tahafut at-Tahafut. Tetapi yang jelas, jika menilik kitabnya yang lain, seperti Fash al-Maqal fima baina al-Hikmati wa as-Syariati min al-Ittishal (Kata Pemutus tentang Pertemuan Agama dan Filsafat) dan Manahij al-Adilllah (Metode Pembuktian), kitab ini ditulis saat Ibnu Rusyd mencapai puncak kematangan rasional dan berpikir kira-kira saat berusia 50 tahun ke atas.
Indikasi kematangan ini misalnya terlihat tatkala Ibnu Rusyd menggunakan kata yang sama untuk nama bukunya sebagaimana Al-Ghazali, yaitu Tahafut, yang berarti kontradiksi atau keruntuhan. Ibnu Rusyd tidak secara gamblang menyebutkan kontradiksi siapakah yang dimaksud, tetapi cukup disebutkan dengan Tahafut at-Tahafut, bukan Tahafut Al-Ghazali. Sebab, tidak semua asumsi Al-Ghazali dibantah oleh Ibnu Rusyd.
Namun, banyak pihak meyakini bahwa karya itu dimaksudkan atas bantahannya terhadap Al-Ghazali yang menyatakan tentang keruntuhan filsafat. Hal serupa juga terlihat dalam karya Al-Ghazali dengan menyebut karyanya Tahafut al-Falasifah.
Penamaan tersebut dimaksudkan Al-Ghazali untuk menyerang keprofanan pemikiran para filsuf, terutama dalam beberapa persoalan filsafat ketuhanan dan kosmologi. Al-Ghazali tidak menyerang keseluruhan pemikiran filsafat. Namun, ia menganggap ada sesuatu yang salah dengan pemikiran filsafat yang dikemukakan banyak orang pada saat itu.
Tentu saja, tidak tepat memposisikan Al-Ghazali antipati terhadap filsafat secara total, begitu pula mengklaim bahwa Ibnu Rusyd mengkritik keseluruhan bantahan Al-Ghazali atas filsafat. Sebab, sebagaimana dijelaskan oleh Sulaiman Dunya dalam pengantar atas terjemahan kitab Tahafut al-Falasifah, kitab Al-Ghazali ini ditulisnya ketika ia dalam fase skeptis ringan (asy-Syakk al-khafif), yakni ketika ia belum mendapatkan petunjuk pada hakikat kebenaran sejati.
Hal ini diungkapkan sendiri oleh Al-Ghazali dalam mukadimah kitab tersebut dengan berkata, "Kami tidak menetapkan dalam buku ini, kecuali mendustakan mazhab mereka (para filsuf). Sedangkan, untuk mengafirmasi mazhab yang benar, kami akan menyusun sebuah buku yang kami beri judul Qawa’id al-’Aqa’id. Dengan buku tersebut, kami bermaksud melakukan afirmasi sebagaimana kami bermaksud melakukan dekonstruksi dengan buku Tahafut."
Jadi, kata Sulaiman Dunya, kitab Tahafut al-Falasifah Al-Ghazali tidak bisa dijadikan sasaran untuk membantah atau menyerang Ibnu Rusyd, melainkan para ahli filsafat. "Dalam karya itu, Al-Ghazali justru menyerang pandangan para filsuf barat yang keliru dalam memahami keazalian Allah," ujarnya.
Sementara itu, Ibnu Rusyd dalam karyanya ini mengungkap faktor yang menjadi
pemicu kritik Al-Ghazali atas filsafat adalah Ibnu Sina yang tidak menjabarkan secara komprehensif terutama tentang filsafat ketuhanan dan kosmologi.
Sehingga, pada dasarnya kitab ini pun selain ditujukan sebagai sanggahan Tahafut al-Falasifah, secara tak langsung juga membantah pemikiran Ibnu Sina.
Jika ditelusuri lebih jauh, terdapat perbedaan antara Ibnu Rusyd, Al-Farabi, dan Ibnu Sina pada pengaruh ide-ide Neo Platonisme. Ia lebih sedikit dipengaruhi oleh ide Neo Platonisme. Ia menolak ide penciptaan dari tiada dan menetapkan keabadian materi.
Dalam kitab ini, Ibnu Rusyd menyanggah asumsi Al-Ghazali atas filsafat yang tertuang dalam bukunya yang bertajuk Tahafut al-Falasifah. Dalam simpulannya, al-Ghazali menetapkan 20 persoalan. Tujuhbelas masalah di antaranya oleh Al-Ghazali dikategorikan bid’ah.
Di akhir bukunya, ada tiga perkara yang disimpulkan Al-Ghazali akan menyebabkan kepada kekufuran. Ketiga hal tersebut yaitu pendapat filsuf bahwa alam itu azali atau qadim (eternal in the past), pendapat filsuf bahwa Tuhan tidak mengetahui hal-hal partikular (juz’iyyat), dan terakhir adalah paham filsuf yang mengingkari adanya kebangkitan tubuh di hari akhirat.
Menariknya, ketajaman berpikir Ibnu Rusyd dengan menggunakan akal rasional dapat diselaraskan dengan penafsiran agama secara rasional. Sekalipun, interpretasi yang dihasilkan tetap sejalan dengan sumber agama, yaitu Alquran dan Sunnah. Bahkan, Ibnu Rusyd tak segan berkesimpulan dalam kajiannya dan menegaskan bahwa para filsuflah yang mampu menguak rahasia Alquran dan mentakwilkannya.
Ibnu Rusyd berusaha melakukan klarifikasi atas persepsi Al-Ghazali. Pembelaan terhadap para filsuf dilakukan dengan mengklarifikasi keberadaan filsafat dan merumuskan harmonisasinya dengan agama.
Menurut Ibnu Rusyd, syariat merupakan jalan hidup yang benar, maka tentu menyeru mempelajari sesuatu yang benar pula. Tidak terdapat pertentangan antara syariat dan filsafat. Bahkan, agama menyerukan umat manusia untuk berpikir dan berfilsafat. Karena sejatinya kebenaran tidak akan berlawanan dengan kebenaran yang lain.
Sebaliknya akan semakin menguatkan, dan jika sesuai, itu tidak ada persoalan. Tetapi, jika berselisih, harus dilakukan takwil (interpretasi) sehingga bisa sesuai dengan pendapat akal. Terdapat beberapa ayat yang menyerukan penggunaan akal untuk memaksimalkan peran akal diantaranya QS Al-Hasyr: 2, QS Al-A’raf: 185, QS Al-An’am: 75, QS Al-Ghasiyah: 17, dan QS Ali-Imran: 191. Wallahua’lam.
Sumber: http://www.republika.co.id


 

Manusia Sebagai Citra Tuhan

Oleh: Frenky Mubarok

Dalam sebuah hadits yang biasa dipetik oleh sufi disebutkan bahwa Allah menciptakan manusia menurut citra-Nya. Inna khalaqa al-âdama min shûratihi (Sesungguhnya penciptaan Adam adalah berdasarkan citra-Nya). Dalam hadits tersebut dapat dipahami bahwa dikarenakan manusia diciptakan Allah swt menurut citraan-Nya maka sifat-sifat Allah pun melekat pada diri manusia walau pun dalam kadar yang sedikit. 

Dalam pemahaman sufistik penciptaan senantiasa dihubungkan dengan konsep tajallī. Istilah tajallī dapat kita perhatikan dalam ayat al-Qur’an yang menggunakan redaksi tersebut. Al-Qur’an menceritakan, “Dan tatkala Musa datang pada waktu yang telah Kami tentukan (miqat) dan berkomnukasi (kallam) dengananya, Tuhan-nya (rabb). Berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah kepadaku agar aku dapat melihat Mu (Dzat Allah)". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku (Dzat-Ku), tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya niscaya kamu dapat melihat-Ku (Dzat-Ku)". Tatkala Tuhannya menampakkan diri (tajallã) kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman" (Q.S. Al-‘Araf: 143).
Dalam Q.S. Al-‘Araf ayat 143 secara spesifik tajallī digambarkan sebagai penampakan Tuhan yang apabila manusia melihatnya maka manusia pun akan tersungkur tak berdaya. Demikianlah betapa penampakan Tuhan di alam semesta ini membuat manusia tidak berdaya. Dalam ayat tersebut, diceritakan bahwa manusia tidak akan pernah dapat menjangkau hakikat dari Dzat Tuhan, ia hanya dapat menjangkau hingga tingkatan (maqam/station) asma’ (nama) dan sifat Allah saja. Ketidak mampuan mengetahui Dzat Tuhan inilah yang mengakibatkan Nabi Musa bertaubat karenanya. Ia bertaubat dari sisi kemanusiaanya karena tidak sanggup mengjangkau hakikat Dzat Allah, dan ia pun percaya (baca: beriman) dengan Ke-mut}laq-an Wujud Allah walaupun hanya dapat mengetahui melallui tajallī-Nya saja.  
Dalam ayat lain, tajallī diartikan sebagai pancaran cahaya matahari yang terang benderang di siang hari, yang dengannya kita bisa melihat segala sesuatu namun kita tidak dapat melihat sumber hakikat dari cahaya matahari tersebut. Allah berfirman, “dan siang apabila terang benderang (tajallâ)” (Q.S. Al-Lail: 2.).Demikianlah tajjalī Allah adalah pancaran cahaya yang bersumber dari Dzat-Nya, kita tidak akan dapat mengetahui hakikat Dzat-Nya tanpa melalui tanda-tanda (ayãt Allãh) yang ditampakan oleh-Nya di alam semesta.
Dalam kitab I’jãz al-bayãn, al-Qunawi berpendapat bahwa, sifat (al-sifãt) dan karakter (al-na’ūt) sealalu sesuai dengan yang disifati (al-musūf) dan yang dideskripsikan (al-man’ūt). Dalam perngertian bahwa menyandarikan suatu sifat kepada sesuatu yang disifatinya adalah hanya jika sifat itu sesuai dengan sesuatu yang disifatinya itu, dan jika secara prinsipil sesuatu itu menerima sifat yang disandarkan kepadanya. Dari pendapat tersebut maka al-Ḥaq swt., meskipun esensi realitas-Nya tidak dapat diindera, akan tetapi – melalui apa yang Dia ajarkan, Dia kabarkan, dan Dia pahamkan, maka kita telah mengetahui bahwa menyandarkan berbagai siat dan karakteri yang memiliki hubungan benar kepada-Nya tidak sama dengan menghubungkan sifat dan karakter itu kepada selain-Nya, hal tersebut karena segala sesuatu selain Dia bersifat mungkin (mumkin) dan segala yang mumkin itu terkena prinsip kenisbian berikut segala sifat yang melekat padanya, seperti: tergantung, terbatas, tidak sempurna, dan lain-lain. Sedangkan Dia swt., dari segi relalitas-Nya (haqīqat), berbeda dengan semua yang nisbi, dan tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya. Jadi, siafat dan karakter hanya dapat disandarkan kepada-Nya hanya dalam pengertian yang mutlak (al-muthlaq), menyeluruh (al-kullī), meliputi (al-iḥathī) dan sempurna (al-kãmil).
Demikianlah bahwasanya tajallî adalah merupakan tanda-tanda Kekuasaan-Nya. Itulah sebabnya Adam sebagai tajallî dari Ilmu dan Asmâ’ Allah menjadi landasan bagi ketundukan malaikat dan mahluk lainnya. Sebagai tajallî dari Ilmu dan Asmâ’ Allah pula yang mengakibatkan manusia memiliki tugas memancarkan sifat-sifat Ilahiyah yang ada di dalam dirinya sebagai raḥmat li ‘âlamî. 
Kembali kepada kisah Nabi Musa as. Pengetahuan Nabi Musa as. tentang Dzat, Asma’, dan Sifat Allah ini ia harus ia sampaikan kepada Fir’aun dalam dakwahnya. Kisah perjalanan dakwah Nabi Musa as. kepada Fir’aun tergambar dalam Q.S. Al-Syu’ara: 23 s.d 67: 
Pada suatu ketika, Musa kembali kepada Fir’aun dan memberitahukan bahwa ia telah diangkat menjadi Nabi dan Rasulullah. Lantas Fir’aun meminta bukti kebenaran risalah Musa dengan bertanya, “Siapakah Tuhan semesta alam?” Musa menjawab: "Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antara keduanya, jika kamu sekalian mempercayai-Nya".Berkata Fir'aun kepada orang-orang sekelilingnya: "Apakah kamu tidak mendengarkan?". Seraya sambil mencibir Musa karena apa jawabannya tidak sesuai dengan apa yang ditanyakan. Musa berkata lagi: "Tuhan kamu dan Tuhan nenek-nenek moyang kamu yang dahulu". Fir'aun tertawa dengan congkak seraya berkata, "Sesungguhnya rasul yang diutus kepada kamu sekalian benar-benar orang gila (majnūn)". Musa tak bergeming, ia melanjutkan perkataanya, "Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya” Lalu Musa menutup penjelasan dengan tegas, “Sungguh berakalkah kalian (inkuntum ta’qilūn)?!". 
Pernyataan Musa yang terahir inilah (inkuntum ta’qilūn) yang membuat Fir’aun menjadi berang. Ia merasa bahwa apa yang dikatakan oleh Musa adalah sebuah kebenaran yang nyata. Manusia tidak akan pernan mengetahui Dzat Tuhan, seperti yang ditanyakan oleh Fir’aun. Manusia hanya dapat mengetahui Tuhan dengan tanda-tanda kekuasaan-Nya yang tersebar di alam semesta. Tanda-tanda tersebut adalah tajallī Allãh, dan hanya lewat tajallī-Nya lah manusia memiliki pengetahuan tentang-Nya. Fir’aun memahami itu, namun ia tak mau mengalah. Kesombongan telah menguasai dirinya. Ia tidak dapat lagi menggunakan akalnya. Karenanya ia tidak lagi mahu beradu argumen dengan Musa. Maka dengan menggunakan kekuasaan yang dimilikinya, dengan congkak ia berkata, "Sungguh jika kamu menyembah Tuhan selain aku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan".Musa masih tetap mencoba menyadarkan Fir’aun dengan terus menggugah logika berfikirnya dengan berkata: "Dan apakah (kamu akan melakukan itu) kendatipun aku tunjukkan kepadamu sesuatu (keterangan) yang nyata?"
Lantas Fir'aun menantang Musa dengan berkata: "Datangkanlah sesuatu (keterangan) yang nyata itu, jika kamu adalah termasuk orang-orang yang benar".Maka Musa lalu menunjukan mu’jizat yang diberikan Allah kepadanya berupa, tongkat yang menjadi ular, tangan yang putih bersinar. Lantas Fir'aun berkata kepada pembesar-pembesar yang berada sekelilingnya: “Sesungguhnya Musa ini benar-benar seorang ahli sihir yang pandai,  ia hendak mengusir kamu dari negerimu sendiri dengan sihirnya; maka karena itu apakah yang kamu anjurkan?". 
Reaksi atas mu’jizat yang ditampakan oleh Nabi Musa kepada Fir’aun sangat di luar dugaan Nabi Musa. Nabi Musa lantas terjebak pada permainan Fir’aun yang menantangnya bertanding dengan para penyihir kerajaan. Namun tentu saja, sekeras apa pun Nabi Musa menyadarkan Fir’aun, walaupun banyak di antara penduduk Negeri Mesir mengakui kebenaran ajaran Musa, ia tetap saja mengingkari peringatan dan risalah Nabi Musa. Kesombongan telah menutup hati Fir’aun  yang telah salah memahami arti sebuah kekuasaan.  Musa dan saudaranya Harun ahirnya memutuskan untuk hijrah dari Negeri Mesir untuk menghindari kemurkaan Fir’aun agar tidak berdampak buruk bagi orang-orang yang telah beriman kepada ajaran Musa. Fir’aun terlanjur sakit hati kepada Musa, ia merasa bahwa Musa dan para pengikutnya adalah merupakan ancaman terbesar bagi kekuasaannya. Dikarenakan hal tersebut maka Musa dan para pengikutnya tidak boleh dibiarkan untuk meninggalkan Mesir dan menyebarkan ajarannya. Fir’aun dan tentaranya mengejar Musa dan para pengikutnya, hingga ahirnya Fir’aun dan bala tentaranya ditenggelamkan ke dalam samudera.  
Dari kisah Nabi Musa as. dan Fir’aun tersebut dapat disimpulkan bahwa orang yang telah tertutup oleh kesombongan dan nafsu akan duniawi tidak akan pernah menerima dan menyadari kebenaran yang ditunjukan kepadanya, sungguhpun ia menjadari dan meyakini kebenaran tersebut. Demikianlah, seperti juga yang terjadi pada Abu Lahab dan para pembesar kafir Quraisy, yang walau pun mengakui bahwa Muhammad  adalah orang yang paling mulia di antara mereka sehingga mereka sendiri memberi gelar kepadanya dengan gelar Al-Amîn, namun karena hatinya tertutup oleh pengaruh duniawi, maka ia menolak ajaran Islam dan berusaha untuk menghancurkan Islam.  
Beramal shalih (‘amilu al-shaliḥât) adalah upaya untuk mengaktualisasikan sifat-sifat Allah atau fithrah Allah yang ada pada diri manusia. Misalnya menyayangi sesama manusia manusia dan alam sekitar berarti telah mengaktifkan fithrah Allah atau sifat Allah yaitu Al-Rahīm (Yang Maha Penyayang). Dengan demikian inti dari amal shaleh adalah bukan semata untuk mengharapkan pahala dari Allah swt, menginginkan Surga, atau takut terhadap siksa Neraka namun lebih kepada sebuah proses untuk berusaha mengaktifkan fithrah Allah dalam kehidupan sehari-hari. Aktifasi fithrah Allah ini pada ahirnya mengarah pada proses menuju kesempurnaan dan menjadi manusia paripurna (insan al-kamil). 
Amal shaleh yang lain adalah saling mengajak kepada Al-Haq(Yang Maha Benar, Yang Maha Nyata) dan mengajak Al-Shabr (Yang Maha Menangguhkan).Kata al-Ḥaq dan  al-Shabr adalah salah satu nama Allah swt. al-Ḥaq adalah salah satu nama Allah swt yang berarti Maha Benar atau Maha Nyata Kebenarannya. Sedangkan al-Shabr berarti bahwa Allah swt Maha Menangguhkan. Jadi selupa dan sezalim apa pun manusia selama ia masih hidup maka Allah swt akan selalu mengharapkan manusia untuk kembali kepada-Nya. Allah swt. yang Maha Benar dan Maha Nyata Kebenarannya akan senantiasa sabar kapada hamba-hambanya yang selalu lupa dan mudah terpengaruh oleh hal-hal negatif. Alla swt Maha Memaafkan selama hambanya mau meminta maaf dan kembali kepada fithrahnya. 
Proses kembali kepda Allah atau kembali kepada fithrah tidak serta merta manusia akan tersadar dengan sendirinya. Sedemikian banyaknya godaan yang menghadang manusia sehingga mata hatinya tertutup untuk melihat kebenaran, karena itu dalam Q.S. Al-‘Ashr[103]: 3 manusia harus berusaha untuk saling mengingatkan untuk kembali kepada fithrah dan kepada kebenaran.

Daftar Pustaka
Chojim, Acmad, Syekh Siti Jenar: Makrifat dan makna kehidupan (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2007).
Fathurahman, Oman, Ithãf al-Dhakī Tafsir Wah}dtul Wujud bagi Muslim Nusantara (Jakarta: Penerbit Mizan, 2012).

Biarkan Lumba-lumba Bebas di Lautan Lepas


Baru-baru ini kampanye untuk membebaskan lumba-lumba ke habitat aslinya gencar di suarakan, terutama oleh para aktivis lingkungan. 
Lumba-lumba adalah mamalia laut yang dipercaya memiliki kecerdasan yang sangat tinggi. Di lautan lepas lumba-luma biasa berenang dengan kecepatan tinggi secara berkelompok karenanya ketika mereka ditempatkan ke dalam kolam renang maka mereka kehilangan keleluasaan untuk bergerak. 
Di lautan lepas lumba-lumba memiliki jarak hidup yang cukup lama hingga empat puluh tahun, akan tetapi jika ditempatkan di dalam kolam renang dan menjadi eksploitasi manusia khusunya untuk hiburan, maka kehidupan lumba-lumba akan berkurang hingga lima persen dari kehidupan di habitat aslinya. 
Menurut para peselancar mereka akan merasa lebih aman jika terdapat lumba-lumba disekelilingnya hal ini karena hiu yang sering kali menganggap bahwa para peselancar adalah makannya, tidak akan berani mendekat jika sekawanan lumba-lumba berada disekitar peselancar tersebut.
Bagi sebagian orang lumba-lumba dipercaya sebagai suatu media untuk terapi autis. Namun apakah tidak ada cara yang lain untuk melakukan terapi autis selain dengan menggunakan lumba-lumba. Seperti diketahui bersama bahwa titik fokus autisme adalah kurangnya kemampuan seseorang untuk mengekspresikan perasaannya sehingga mereka sering kali kesulitan untuk bersosialisasi dengan orang lain. Lumba-lumba adalah termasuk mamalia sosial, mereka hidup secara berkelompok dan sering kali melakukan interaksi dengan manusia. Dengan kemampuan interaksinya tesebut lumba-lumba tidak akan pernah sungkan untuk mengajak berkomunikasi bahkan kepada penderita autis sekalipun. Dengan demikian titik tekannya adalah bagaimana kita melakukan interaksi kepada penderita autis yang sedang diterapi bukan pada lumba-lumbanya. Bukankah kita adalah mahluk yang lebih cerdas dan lebih sosialis dibandingkan lumba-lumba, lantas kenapa kita harus menggunakan lumba-lumba untuk menyembuhkan penderita autis. 
Karena itu, lepaskan lumba-lumba, biarkan mereka hidup di lautan lepas!