Pages

Friday, September 25, 2015

Memahami Syafa'at (Bagian 1)

Sumber gambar: islampeace1.wordpress.com
Barangsiapa yang memberikan syafa'at yang baik, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. Dan barangsiapa memberi syafa'at yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya. (Q.S. An-Nisa ayat 85)
Dalam setiap doa yang dipanjatkan oleh para pemuka agama baik ustadz maupun kiyai, permohonan untuk menjadi salah satu orang yang dapat menerima syafa’at Rasulullah saw selalu menjadi bagian penting dalam isi doa tersebut. Biasanya beberapa ustadz memohon syafa’at bagi dirinya dan jama’ah untuk di akhirat kelak yang seolah menjadi tiket masuk ke surga.

Kata Syafa’at dalam pengertian secara bahasa, terambil dari kata kerja shafa’a yang selain bermakna memberi syafa’at juga mengandung makna genap, atau jodoh. Dengan demikian syafa’at secara umum adalah sebuah tindakan yang dilakukan untuk melengkapi sesuatu yang dianggap masih belum lengkap atau belum sempurna. Jika syaf’at kemudian ditarik ke dalam pengertian yang lebih spesifik maka syafa’at juga dapat dipahami sebagai tindakan yang dilakukan oleh manusia untuk melengkapi ketidak sempurnaan pribadinya. Pribadi manusia tercermin dari kondisi spiritual atau kejiwaannya yang akan tercermin dalam perbuatannya di masyarakat.
Pada dasarnya syafa’at adalah proses untuk menambahkan sesuatu. Di dalam matematika, proses penambahan dapat dilakukan dengan menambahkan sesuatu yang positif namun juga dapat dilakukan dengan menambahkan sesuatu yang negatif. Jika penambahan dilakukan dengan sesuatu yang positif maka bertambahlah nilai sesuatu yang ditambah tersebut, namun jika sebaliknya maka sesuatu yang ditambah tersebut akan berkurang nilainya. Dikarenakan analogi tersebut maka syafa’at terbagi menjadi dua yaitu syafa’at negatif dan syafa’at positif.
Di dalam Al-Qur`an syaf’at dengan sesuatu yang negatif dilarang dengan tegas. Hal tersebut dikarenakan bahwa jika seseorang memberikan syafa’at yang buruk kepada orang lain maka sang pemberi syafa’at tersebut akan ikut menanggung beban yang buruk pula. Seperti orang yang membujuk orang lain untuk melakukan suatu perbuatan yang melanggar hukum atau etika misalnya merampok, maka sang pembujuk tersebut pastilah akan dikaitkan dengan si perampok sebagai bosnya ketika si perampok tertangkap. Begitupun, jika seseorang menansehati seseorang untuk berbuat baik dan bekerja keras untuk kebahagiaan dunia ahirat orang yang dinasehati tersebut, maka kelak jika orang yang dinasehati tersebut mendapatkan keuntungan atau kesuksesan, sang pemberi nasehat pun akan juga dapat menikmati kebahagiaan sebagaimana kebahagiaan orang yang dinasehati tersebut. Allah swt berfirman:
Barangsiapa yang memberikan syafa'at yang baik, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. dan barangsiapa memberi syafa'at yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (Q.S. An-Nisa [4] : 85).

Memahami Syafa'at (1, 2, 3, 4, 5

No comments:

Post a Comment